Sejarah Islam di Mesir Lengkap untuk Jamaah Umroh: Dari Fustat hingga Al-Azhar

📅 01 July 2026👤 admin👁 2x dibaca

Mesir bukan hanya tanah piramida dan Firaun. Lebih dari 1.400 tahun, negara ini menjadi salah satu pusat peradaban Islam terpenting di dunia. Dari masa penaklukan Amr bin Ash di tahun 641 M, berdirinya kota Fustat, hingga era keemasan Dinasti Fatimiyah, Ayyubiyah, dan Mamluk—sejarah Islam di Mesir lengkap untuk jamaah adalah kisah panjang tentang bagaimana iman, ilmu, dan budaya membentuk sebuah peradaban agung. Artikel ini akan membawa Anda menelusuri jejak-jejak Islam di Mesir secara kronologis, dari periode paling awal hingga modern, dengan fokus pada tempat-tempat yang masih bisa dikunjungi jamaah hingga hari ini.

Memahami sejarah Islam di Mesir sangat penting bagi jamaah umroh plus mesir. Sebab, setiap destinasi wisata yang Anda kunjungi—mulai dari Masjid Amr bin Ash, Masjid Al-Azhar, hingga Masjid Sultan Hassan—memiliki latar belakang sejarah yang mendalam. Dengan mengetahui konteks sejarahnya, kunjungan ziarah Anda akan terasa lebih bermakna dan penuh penghayatan.

1. Awal Masuknya Islam ke Mesir (639-642 M)

Kisah Islam di Mesir dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Pada tahun 639 M, utusan pertama dikirim ke Alexandria, namun baru pada tahun 641 M, pasukan Islam di bawah komando Amr bin Ash RA berhasil menaklukkan kota Babylon (Babilonium) di tepi barat Sungai Nil. Penaklukan ini menjadi titik awal berdirinya komunitas Muslim pertama di Mesir.

Menurut sejarah, Amr bin Ash RA memimpin sekitar 15.000 pasukan dalam penaklukan ini. Sebelum menyerang, ia memberikan tiga pilihan kepada penduduk: masuk Islam, membayar jizyah (pajak perlindungan), atau berperang. Penduduk mayoritas memilih membayar jizyah, sehingga konflik bersenjata dapat diminimalisir. Pendekatan ini menjadi salah satu teladan dakwah Islam yang bijaksana.

1.1 Berdirinya Kota Fustat (641 M)

Setelah penaklukan, Amr bin Ash RA mendirikan sebuah perkemahan militer yang kemudian berkembang menjadi kota permanen bernama Fustat (Arab: الفسطاط, berarti “tenda”). Kota ini menjadi ibu kota Mesir Islam pertama dan menjadi cikal bakal Kairo modern. Lokasi Fustat dipilih strategis di dekat sungai Nil dan pertemuan jalur perdagangan utama.

Di sinilah, pada tahun 641-642 M, Masjid Amr bin Ash didirikan—masjid pertama di seluruh benua Afrika. Masjid ini menjadi pusat ibadah, pengadilan, dan pembelajaran Islam di Mesir selama berabad-abad. Luas awalnya hanya 29 x 17 meter, tetapi terus berkembang menjadi kompleks besar. Saat ini, reruntuhan Fustat dan Masjid Amr bin Ash masih bisa dikunjungi di distrik lama Kairo.

1.2 Masjid Amr bin Ash Ikonik

Masjid Amr bin Ash telah melalui beberapa kali rekonstruksi. Versi terakhir dibangun pada masa Gubernur Abdullah ibn Abd al-Malik tahun 698 M, kemudian diperluas berkali-kali. Selama era Dinasti Fatimiyah, masjid ini memiliki luas 122 x 112 meter dengan 6 menara. Saat ini, masjid ini masih aktif digunakan untuk shalat lima waktu dan menjadi salah satu situs Islam paling bersejarah di Mesir.

2. Era Dinasti Fatimiyah (909-1171 M) — Zaman Keemasan Kairo

Periode paling menentukan dalam sejarah Islam di Mesir lengkap untuk jamaah adalah era Dinasti Fatimiyah. Pada tahun 969 M, Jauhar al-Siqilli (panglima militer Fatimiyah) menaklukkan Fustat dan membangun kota baru bernama Al-Qahirah (Kairo), yang berarti “yang menang”. Kota ini masih berdiri hingga hari ini sebagai ibu kota Mesir modern.

2.1 Berdirinya Masjid Al-Azhar (970 M)

Tidak lama setelah Kairo dibangun, Khalifah Al-Mu’izz li-Din Allah memerintahkan pembangunan Masjid Al-Azhar pada tahun 970 M. Nama “Al-Azhar” diambil dari Sayyidah Fatimah Az-Zahra RA, putri Nabi Muhammad SAW. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran Islam—dan pada tahun 975 M secara resmi menjadi universitas, menjadikannya universitas Islam tertua di dunia yang masih beroperasi.

Pada era Salahuddin Al-Ayyubi (1171-1193 M), Al-Azhar dialihkan dari pusat pembelajaran Syi’ah menjadi Sunni, yang membuatnya semakin inklusif dan menjadi rujukan utama dunia Islam Sunni hingga sekarang.

2.2 Pembangunan Kota Kairo dan Tembok Pertahanan

Dinasti Fatimiyah membangun infrastruktur Kairo dengan megah: tembok kota, istana-istana megah, dan jaringan kanal. Kota ini berkembang menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan seni. Pada puncak kejayaannya, Kairo menjadi kota terbesar di dunia dengan populasi hampir 500.000 jiwa—jauh melampaui kota-kota di Eropa saat itu.

3. Era Ayyubiyah dan Mamluk (1171-1517 M) — Masjid-Masjid Raksasa

Setelah jatuhnya Dinasti Fatimiyah, Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin) mengambil alih kekuasaan pada 1171 M. Ia pendiri dinasti Ayyubiyah dan terkenal karena merebut kembali Yerusalem dari tentara Salib. Di Mesir, ia membangun banyak infrastruktur termasuk benteng dan madrasah.

3.1 Era Mamluk dan Arsitektur Monumental

Dinasti Mamluk (1250-1517 M) meninggalkan warisan arsitektur paling mengesankan di Kairo. Pada era ini, masjid-masjid megah dibangun dengan gaya yang khas:

  • Masjid Sultan Hassan (1356-1363 M) — Sering disebut sebagai masjid terindah di dunia, dengan kubah setinggi 36 meter dan arsitektur yang memadukan gaya Mamluk, Abbasiyah, dan Fatimiyah.
  • Masjid Al-Nasir Muhammad (1318 M) — Terletak di dalam Benteng Saladin, masjid ini memiliki kubah besar dengan langit-langit berukir emas.
  • Masjid Al-Muayyad (1415 M) — Dikenal dengan menara kembar yang menjulang tinggi dan detail ukiran batu yang halus.
  • Madrasah dan Mausoleum Qalawun (1284 M) — Kompleks keagamaan dan makam yang menjadi salah satu pusat pembelajaran penting.

Pada era Mamluk inilah Khan El-Khalili dibangun pada 1382 M oleh Sultan Barquq. Pasar ini masih berdiri dan beroperasi hingga hari ini, menjadikannya salah satu pasar tertua di dunia Islam.

4. Era Ottoman (1517-1805 M) — Tetap Menjadi Pusat Ilmu

Pada tahun 1517 M, Kesultanan Utsmaniyah menaklukkan Mesir. Meskipun berada di bawah kendali Ottoman, Mesir tetap menjadi pusat pembelajaran Islam yang penting. Banyak masjid Ottoman dibangun dengan gaya yang lebih sederhana, namun tidak kalah indahnya:

  • Masjid Muhammad Ali (1830-1848 M) — Terletak di Benteng Saladin, masjid ini menjadi landmark Kairo dengan kubah tinggi dan menara yang menjulang.
  • Masjid Sinan Pasha (1571 M) — Dibangun oleh arsitek Utsmaniyah terkenal Mimar Sinan.

Selama era Ottoman, Al-Azhar terus berkembang sebagai pusat pembelajaran Islam, dengan puluhan ribu mahasiswa dari seluruh dunia Muslim.

5. Era Modern dan Revolusi (1805-Sekarang)

Pada 1805 M, Muhammad Ali Pasha merebut kekuasaan dari Ottoman dan memodernisasi Mesir. Ia membangun banyak infrastruktur baru, termasuk Terusan Suez, sekolah-sekolah modern, dan pabrik. Meskipun melakukan modernisasi, ia tetap menjaga Al-Azhar dan tradisi Islam.

5.1 Peran Al-Azhar di Abad ke-20 dan 21

Di era modern, Al-Azhar tetap menjadi otoritas keagamaan utama di dunia Sunni. Universitas Al-Azhar saat ini memiliki lebih dari 1 juta mahasiswa aktif dan menjadi rujukan fatwa untuk komunitas Muslim di seluruh dunia. Hubungan Al-Azhar dengan Indonesia sangat erat—banyak pendiri ormas Islam besar Indonesia yang pernah belajar di sini, termasuk Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

6. Tempat Bersejarah yang Wajib Dikunjungi Jamaah

Berikut adalah destinasi utama yang bisa Anda kunjungi untuk menyusuri jejak sejarah Islam di Mesir:

Situs Tahun Berdiri Lokasi
Masjid Amr bin Ash 641 M Fustat, Kairo Tua
Masjid Al-Azhar 970 M Kairo Islam
Masjid Sultan Hassan 1363 M Kairo Islam
Masjid Al-Hussein 1154 M Khan El-Khalili
Masjid Ibn Tulun 876 M Kairo Islam
Masjid Muhammad Ali 1848 M Benteng Saladin
Khan El-Khalili 1382 M Kairo Islam

7. Tokoh-Tokoh Penting dalam Sejarah Islam Mesir

Beberapa tokoh yang berperan besar dalam membentuk peradaban Islam di Mesir:

  • Amr bin Ash RA (wafat 664 M) — Penakluk dan pendiri Masjid pertama di Afrika.
  • Jauhar al-Siqilli (wafat 992 M) — Panglima yang membangun Kairo.
  • Shalahuddin Al-Ayyubi (1137-1193 M) — Pemimpin Islam yang merebut Yerusalem dari Salib.
  • Sultan Hassan (1336-1361 M) — Pemimpin Mamluk yang membangun masjid termegah.
  • Muhammad Abduh (1849-1905 M) — Tokoh pembaruan Islam dan mantan Grand Syeikh Al-Azhar.

8. Tips untuk Jamaah yang Ingin Mengikuti Jejak Sejarah

  1. Rencanakan itinerary 5-7 hari di Kairo. Sangat ideal karena banyak situs yang lokasinya berdekatan di area “Islamic Cairo” (Kairo Islam) yang telah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO.
  2. Sewa pemandu lokal berbahasa Indonesia/Arab. Banyak situs yang maknanya tidak tertulis di papan informasi, sehingga penjelasan pemandu sangat berharga.
  3. Kunjungi saat pagi atau sore. Cuaca Kairo sangat panas di siang hari (bisa 38-42°C), terutama Juni-Agustus. Waktu terbaik adalah Oktober-April.
  4. Buku panduan sejarah singkat. Baca sekilas tentang situs yang akan dikunjungi sebelum berangkat. Banyak e-book gratis tentang sejarah Islam Kairo yang bisa diunduh.
  5. Gunakan alas kaki yang nyaman. Masjid-masjid dan situs bersejarah mengharuskan Anda berjalan kaki cukup jauh, dengan lantai yang tidak selalu rata.
  6. Jangan lewatkan shalat berjamaah. Melaksanakan shalat di Masjid Amr bin Ash, Al-Azhar, atau Sultan Hassan adalah pengalaman spiritual yang tak ternilai.

9. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Kapan Islam pertama kali masuk ke Mesir?

Islam masuk ke Mesir pada tahun 639-642 M, ketika pasukan di bawah komando Amr bin Ash RA menaklukkan kota Babylon (Babilonium) di tepi Sungai Nil. Penaklukan ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.

2. Apa masjid pertama di Mesir?

Masjid Amr bin Ash, yang didirikan pada tahun 641-642 M di kota Fustat. Masjid ini merupakan masjid pertama di seluruh benua Afrika dan masih berdiri hingga hari ini, meskipun telah beberapa kali direkonstruksi.

3. Mengapa Kairo menjadi pusat Islam dunia?

Sejak berdirinya pada 969 M oleh Dinasti Fatimiyah, Kairo menjadi pusat politik, ekonomi, dan intelektual dunia Islam. Didirikannya Masjid dan Universitas Al-Azhar (970 M) menjadikannya pusat pembelajaran Islam yang tak tertandingi, hingga kini.

4. Apakah aman mengunjungi situs-situs bersejarah Islam di Kairo?

Sangat aman. Area “Islamic Cairo” adalah distrik wisata yang dijaga ketat dengan banyak pos polisi wisata. Jutaan turis Muslim berkunjung setiap tahun tanpa insiden. Jamaah Indonesia juga banyak yang melakukan perjalanan ziarah ke sini.

5. Berapa lama waktu ideal untuk menyusuri sejarah Islam di Kairo?

Idealnya 3-4 hari untuk situs-situs utama di Kairo Islam, Fustat, dan Benteng Saladin. Jika dikombinasikan dengan destinasi lain (Piramida, Museum, Alexandria, Luxor), durasi total idealnya 7-10 hari.

Kesimpulan

Memahami sejarah Islam di Mesir lengkap untuk jamaah akan membuat perjalanan ziarah Anda jauh lebih bermakna. Dari Masjid Amr bin Ash yang sederhana di Fustat, hingga kemegahan Masjid Sultan Hassan dan Al-Azhar, setiap sudut Kairo menyimpan jejak kejayaan peradaban Islam yang berusia lebih dari 14 abad. Mesir adalah living museum bagi umat Islam—tempat di mana sejarah bukan hanya dipelajari dari buku, tetapi juga dilihat, disentuh, dan dihayati secara langsung.

Jika Anda merencanakan perjalanan umroh plus mesir, pastikan untuk menyertakan kunjungan ke situs-situs Islam bersejarah ini. Tim Panorama Nur Mecca siap membantu Anda menyusun itinerary yang mencakup destinasi religi, wisata, dan budaya dengan pendampingan tour guide yang paham sejarah Islam.

Artikel Terkait yang Wajib Anda Baca:

Mau Mulai Spiritual Journey ke Mesir?

Konsultasi gratis dengan tim kami

💬 Chat WhatsApp

Butuh Informasi Paket Umroh Sesuai Budget?

Konsultasikan kebutuhan ibadah Anda dengan tim kami. Gratis dan tanpa komitmen.

💬 Chat WhatsApp Sekarang
📢 Bagikan: 📘 Facebook